“Dalam berbicara seseorang harus tetap berpikir jernih, hingga dapat mencetuskan ide-ide unggul dan berakhir dengan kemenangan.”
— Ki Hajar Dewantara
Kutipan Ki Hajar Dewantara tersebut menegaskan bahwa ucapan bukan sekadar bunyi, melainkan hasil dari kejernihan berpikir. Berbicara yang lahir dari pikiran jernih akan melahirkan gagasan bermutu, dan pada akhirnya membawa kemenangan—bukan kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan pada nilai: kebenaran, kebijaksanaan, dan kebermanfaatan.
Ruang Guru dan Grup WhatsApp
Ruang guru dan grup WhatsApp sekolah merupakan dua ruang penting dalam kehidupan sekolah. Ruang guru hadir secara fisik, sedangkan grup WhatsApp hadir secara digital. Keduanya menjadi tempat yang paling sering diakses guru di luar ruang kelas. Di sanalah guru bertemu, berinteraksi, menumpahkan pikirannya, berbicara, dan membangun komunikasi sehari-hari.
Pada praktiknya, ruang guru kerap dianggap sebagai fasilitas pendukung sekolah. Saat jam istirahat, jeda mengajar, hingga persiapan akreditasi, ruang guru menjadi pusat aktivitas. Bahkan, dalam instrumen akreditasi sekolah, keberadaan ruang guru menjadi salah satu indikator kelengkapan sarpras sekolah. Sementara itu, grup WhatsApp sekolah berfungsi sebagai sarana komunikasi cepat terbatas antara guru dan kepala sekolah.
Namun persoalan mendasarnya bukan pada keberadaan ruang guru atau grup WhatsApp, melainkan pada bagaimana kedua ruang tersebut dimanfaatkan dalam mendukung pengembangan kualitas pendidikan di sekolah.
Ruang Guru sebagai Pusat Gagasan
Dalam kondisi ideal, ruang guru seharusnya menjadi pusat diskusi dan pengembangan gagasan sekolah. Di ruang guru inilah harapannya guru dapat berdialog tentang isu pendidikan, menyoal kebijakan yang seharusnya memihak rakyat, berbagi praktik baik pembelajaran, menyusun program strategis sekolah, serta membahas tantangan pendidikan yang dihadapi oleh murid ataupun sekolah.
Ruang guru semestinya menjadi tempat konsolidasi pemikiran. Dari percakapan sehari-hari yang bermakna, dapat lahir program pembelajaran yang berkualitas, inovasi sekolah, dan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Ruang guru bukan hanya tempat rehat tetapi juga ruang kerja intelektual.
Hal serupa berlaku untuk grup WhatsApp sekolah. Idealnya, grup ini menjadi sarana komunikasi strategis seperti menyiapkan rencana strategis kebijakan sekolah, mengoordinasikan program, serta membuka ruang diskusi virtual terkait isu pendidikan, pembelajaran, hingga pengasuhan murid.
Realitas yang Dihadapi Sekolah
Ironisnya, realitas di banyak sekolah menunjukkan hal yang berbeda. Ruang guru sering kali hanya menjadi tempat lahirnya obrolan ringan yang jauh dari isu pembelajaran atau pendidikan. Percakapan didominasi gosip tetangga, keluhan personal, gaji atau tunjangan pendapatan, hingga isu viral yang tidak berujung pada refleksi maupun solusi yang membangun. Untuk mengurangi dampak kurang baik tersebut hingga dikhawatirkan akan menurunkan tingkat disiplin para guru, malah ada juga sekolah yang secara sadar tidak menyediakan ruang guru untuk guru-gurunya.
Kondisi ini diperparah ketika tidak ada kepemimpinan yang mampu mengarahkan budaya diskusi dan tumbuhnya kesadaran intelektual. Akibatnya, ruang guru kehilangan peran strategisnya. Ruang guru betul hadir secara fisik, tetapi miskin peran dalam mendorong kemajuan sekolah. Maka tidak mengherankan jika sekolah akhirnya tidak berkembang karena dialog intelektual yang membangun pikiran di ruang guru saja tidak dilakukan namun mengharapkan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas.
Setali tiga uang dengan grup WhatsApp sekolah. Grup yang seharusnya menjadi ruang komunikasi efektif justru terbatas pada penyampaian informasi yang bersifat teknis semacam undangan rapat, pembagian/delegasi tugas, hingga pesan berantai (terusan). Lebih dari itu nyatanya juga ada grup berisi para guru yang ramainya hanya pada situasi tertentu, seperti saat terjadi gangguan presensi daring atau gaji/tunjangan yang tak kunjung cair. Hampir tidak ada ruang dialog atau diskusi reflektif. Grup WhatsApp ada, tetapi miskin makna.
Guru dan Nalar Kritis
Kualitas ruang guru dan grup WhatsApp yang anggotanya para guru sejatinya mencerminkan kualitas budaya berpikir dan kesadaran intelektual guru-gurunya. Guru yang terbiasa berdialog dan berpikir kritis akan lebih peka terhadap fenomena sosial dan mampu mengaitkannya dengan pembelajaran di kelas.
Lisan guru adalah kompas moral. Jika ia digerakkan oleh kejernihan berpikir, maka ke mana pun kata itu melangkah maka ia akan menuntun pada kemenangan peradaban, bukan sekadar perdebatan.
Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga membangun nalar murid. Alih-alih mengharapkan pembelajaran menumbuhkan kemampuan bernalar kritis bagi para murid, yang dilakukan hanya melakukan rutinitas sebagai penggugur kewajiban karena guru sendiri tidak memiliki keinginan bertukar gagasan dan refleksi. Budaya pasif di ruang guru akan berdampak langsung pada budaya belajar murid-murid di kelas.
Menormalisasi Fungsi Ruang Guru
Ruang guru dan grup WhatsApp bukan sekadar persoalan fasilitas atau teknologi, melainkan persoalan budaya dan kepemimpinan. Keduanya dapat menjadi motor penggerak kemajuan sekolah jika dikelola dengan arah yang jelas.
Pimpinan sekolah perlu membangun budaya diskusi yang sehat dan produktif. Ruang guru perlu dinormalisasi fungsinya sebagai ruang mencetak ide atau gagasan, bukan hanya ruang istirahat sesaat. Demikian pula grup WhatsApp sekolah perlu dikelola secara bijak sebagai sarana komunikasi yang efektif, reflektif, bermakna, dan berdampak.
Bila perlu grup WhatsApp dijadikan sebagai wadah bagi para guru berlatih menulis dengan menuangkan gagasan orijinalnya. Hal ini pula yang digagas Prof. Dr. Eng. Imam Robandi, M.T. (Guru Besar ITS) hingga lahirlah grup WhatsApp komunitas IRo Society yang anggotanya mayoritas para guru yang kemudian biasa dikenal dengan sebutan de Universiteit van IRo. Visi yang diusung adalah menjadikan pribadi dan kelompok yang senang belajar dan meningkatkan kualitas diri. Misinya yaitu melakukan diskusi positif, menyampaikan kebaikan, menyampaikan karya/ide orijinal, saling memberi semangat dalam melakukan pembelajaran (Erwin Prastyo, 2019). Jika ruang guru dan grup WhatsApp dibiarkan berjalan tanpa arah, sekolah berpotensi kehilangan ruang berpikirnya. Namun jika dikelola dengan kesadaran dan visi, dari kedua ruang inilah kualitas sekolah dapat ditumbuhkan secara berkelanjutan.
Di era transformasi digital pendidikan, ruang guru dan grup WhatsApp sekolah memiliki potensi besar sebagai media pengembangan profesional guru. Tidak hanya sebagai tempat bertukar informasi administratif, kedua ruang tersebut dapat menjadi sarana membangun budaya literasi, berpikir kritis, dan kolaborasi pendidikan yang sehat. Ketika guru aktif berdiskusi mengenai pembelajaran, strategi mengajar, hingga tantangan pendidikan karakter, maka kualitas sekolah akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Budaya diskusi guru yang positif juga menjadi salah satu indikator penting dalam menciptakan sekolah yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Sekolah yang memiliki ruang komunikasi sehat cenderung lebih cepat menemukan solusi atas berbagai persoalan pembelajaran. Oleh sebab itu, optimalisasi ruang guru dan grup WhatsApp sekolah perlu dipandang sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.
Selain itu, pemanfaatan grup WhatsApp guru secara bijak dapat memperkuat komunitas belajar profesional di lingkungan sekolah. Grup digital tidak seharusnya hanya dipenuhi informasi teknis, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk berbagi praktik baik pembelajaran, refleksi pendidikan, hingga latihan menulis gagasan. Dengan demikian, guru tidak hanya berkembang sebagai pengajar, tetapi juga sebagai intelektual yang aktif membangun peradaban melalui pendidikan.
Normalisasi fungsi ruang guru sebagai pusat gagasan pendidikan akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di kelas. Guru yang terbiasa berdialog dan bertukar ide akan lebih kreatif dalam merancang pembelajaran yang bermakna bagi murid. Pada akhirnya, budaya intelektual yang tumbuh di ruang guru akan menular pada budaya belajar murid, sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuhnya nalar kritis dan karakter positif.
Ingin Menjadikan Guru Lebih Berdaya? Lanjutkan Pendidikan di S2 Pendidikan Dasar Universitas Alma Ata Yogyakarta. Kuliah Hybrid (Online), Lulus dalam 3 semester, dan tidak wajib Thesis. Info selengkapnya hubungi wa.me/6287834049756.
Ditulis oleh:
Erwin Prastyo, S.Pd.Si.
(Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar UAA, Fasilitator Tanoto Foundation, dan Penulis Aktif Media Massa)
NB: Artikel ini sebelumnya telah dimuat dalam Media Massa Mata Banua dengan beberapa penambahan oleh Admin